Senin, 09 April 2012

Total Mind Learning

Total Mind Learning bisa dikatakan terobosan terbaru dalam dunia pendidikan, TML menawarkan berbagai metode untuk meningkatkan kinerja otak secara maksimal.
 Pada dasarnya otak kita memiliki kemampuan  yang tidak terbatas dan sangat mampu sekali untuk terus dikembangkan dan di isi hingga usia 70 tahun, asalkan kita bisa memberdayakan semaksimal mungkin kemampuan pikiran sadar dan alam bawah sadar kita.
Tiga konsep TML  yang sangat fundamental anatranya adalah 1. Attitude, perubahan sikap adalah hal pertama untuk dilakukan setiap individu agar terbukanya sebuah mind set baru tentang  pola hidup yang lebih baik. Orang yang mempunyai rasa ingin tahu dan berjiwa  petualang pastinya akan selalu senang jika dihadapkan pada sesuatu yang baru, dan ia akan dengan mudah dapat menguasai hal-hal yang bahkan bukan dalam koridornya sendiri.
2. Behavior, Sering kali kita hanya terfokus melihat apa-apa yang tersurat dalam suatu kejadian atau peristiwa, padahal terdapat nusur-unsur  lain didalamnya yang sangat jelas sekali dapat mempengaruhi kemampuan seseorang. Yang perlu diperhatikan disini bahwa sesuatu yang terstruktur memiliki model dan model tersebutlah yang bisa membuat kita menjadi apapun yang kita inginkan.
3. Tools / technology mempengaruhi sebanyak 56%.


Cara kerja TML yang memberikan pengaruh besar antaranya adalah..
 1. Specify, menentukan target adalah salah satu pondasi utama dalam memulai sesuatu. setelah kita tahu apa target yang harus dicapai, kita juga harus mengatahui cara apa yang bisa kita tempuh untuk mencapai target yang telah kita tentukan.
2. Omission, kita harus mengetahui mana-mana yang harus kita hapuskan dalam kegiatan kita dan menambahkan suatu yang penting. Hindari untuk berbicara yang tidak penting, membicarakan hal yang tidak penting bersama orang yang tidak penting di tempat yang sama sekali tidak penting.

3. Imporovement, kemudian baru bisa kita kembangkan pikiran kita, focus, kecepatan dan ketepatan membaca serta kemampuan matematis kita.

4. Let Out…


Hedonis tapi Miskin gan!!!!

ini asli looh... hasil pengamatan pribadi: Orang Indonesia itu kebanyakan miskin tapi bersifat hedonis, jadi wajar kalo kriminal meraja-singa di Indonesia..
mau bukti?
kita lihat sedikit ke-kampung sebelah-- ada seorang anak yang memaksa orang tuanya untuk membelikan sepeda motor karena iri melihat teman sebayanya yang seliweran naik motor bagus.. padahal si orangtua hanya sebagai nelayan yang untuk makan aja susah.. yang terjadi apa kalau begitu? si bapak mencuri karena sudah gak tahan sama anaknya...

ada anak kuliahan yang rela gak beli buku wajib dari dosenya bela-belain karena pengen beli hp baru sejenis Black-berry/android dan lainya. dan masih banyak lagi...

dan inilah sialnya potret masyarakat kita.
pondasinya belum kuat tapi tantangan bertambah begitu cepat.. kalo kata guru akuntansi gua sih gak Balance namanya.

India; The next super power country

India bisa menjadi negara superpower karena perkembanganya yang sangat pesat dibidang teknologi informasi, bahkan software2-nya jauh lebih berkelas ketimbang punya Amerika.
wajarlah jika sekarang negara india dicalonkan menjadi salahsatu kandidat mendampingi cina sebagai superpower country abad ini.. dan faktanya salah satu negara yang ditakuti Israel adalah India.. hayo.. kemana Indonesia?
jangan heran, pemuda Indonesia hanya bangga dengan Black Berry-nya saja... tidak lebih, itu pun bukan made in dalam negri. gak percaya? kalo anak2 smp-sma india ngumpulin duit bertahun2 buat beli sofware2 keren yang bisa dikembangkan, nah kalo anak Indonesia untuk beli Black Berry supaya KATANYA biar gak ketinggalan zaman.

Minggu, 08 April 2012

SURAT DARI IBLIS UNTUKMU

Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu...
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu...
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu,
 juga tidak sempat mengerjakan shalat Isya sebelum berangkat ketempat tidurmu..
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukaimu.....
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.

Hai Sayang, Kamu millikku...
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu....
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah......
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah...
Dia sudah mencampakkan aku dari surga,
dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk membalaskannya...

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan....
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka....
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH....
Aku benar-benar berterimakasih padamu,
karena aku sudah menunjukkan kepada NYA
siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani...
Kita bermaksiat bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik,
makan sekenyang-kenyangya,  bergosip, manghakimi orang,
menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua, ,,
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk....

TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.
Ayolah, Hai Sayang, kita terbakar bersama, selamanya.....
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita...
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu....
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu...
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu...
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa...
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.....

Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda...
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa...
Yang perlu kau lakukan adalah berzina, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi,
bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin...
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya....
Begitulah anak-anak...

Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi...
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit....
Memperingati orang bukan tabiatku,
tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh...
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu....
Hanya saja kau harus menjadi orang tolol yang lebih baik dimata ALLAH...
*Catatan : Jika kau benar2 menyayangiku, kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun ...
~ o ~
Na'audzubillah ..!
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat .......

Sabtu, 07 April 2012

KENAPA KITA HARUS TERUS BELAJAR ?




Salah satu unsur penting dalam Manajemen Diri adalah membangun kebiasaan untuk terus-menerus belajar atau menjadi manusia pembelajar yang senantiasa haus akan informasi dan pengetahuan. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Henry Ford, pendiri General Motors yang mengatakan, ”Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. The greatest thing in life is to keep your mind young.”
 
Tidak peduli berapa pun usia kita, jika kita berhenti belajar berarti kita sudah tua, sedangkan jika senantiasa belajar kita akan tetap awet muda. Karena hal yang terbaik di dunia akan kita peroleh dengan memelihara pikiran kita agar tetap muda. Namun sayangnya, sebagian besar kita tidak pernah punya waktu untuk BELAJAR. 

Alasan utama yang sering kita sampaikan adalah kesibukan pekerjaan. Kita terjebak dalam rutinitas dan tekanan pekerjaan sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengasah gergaji kita, seperti yang diceritakan oleh Stephen Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People sebagai berikut :

Andaikan saja Anda bertemu seseorang yang sedang terburu-buru menebang sebatang pohon di hutan. ”Apa yang sedang Anda kerjakan? Anda bertanya. ”Tidak dapatkah Anda melihat?” demikian jawabnya dengan tidak sabar. ”Saya sedang menggergaji pohon ini.” ”Anda kelihatan letih!” Anda berseru. ”Berapa lama Anda sudah mengerjakannya?” ”Lebih dari lima jam,” jawabnya, ” dan saya sudah lelah! Ini benar-benar kerja keras.”Nah,..mengapa Anda tidak beristirahat saja beberapa menit dan mengasah gergaji itu?” Anda bertanya. ”Saya yakin Anda akan dapat bekerja jauh lebih cepat.” ”Saya tidak punya waktu untuk mengasah gergaji,” orang itu berkata dengan tegas. ”Saya terlalu sibuk menggergaji.” 

Bahkan menurut Covey, kebiasaan mengasah gergaji merupakan kebiasaan yang paling penting karena melingkupi kebiasaan-kebiasaan lain pada paradigma tujuh kebiasaan manusia efektif. Kebiasaan ini memelihara dan meningkatkan aset terbesar yang kita miliki yaitu diri kita. Kebiasaan ini dapat memperbarui keempat dimensi alamiah kita—fisik, mental, spiritual, dan sosial/emosional. BELAJAR merupakan salah cara kita untuk memperbaiki dan meningkatkan keefektifan diri kita. Meskipun kita memiliki ”keterbatasan waktu”, kita tetap perlu mengasah gergaji kita. 

Memahami gaya belajar pribadi Anda akan dapat meningkatkan kinerja dan prestasi Anda. Anda akan mampu menyerap informasi lebih cepat dan mudah. Anda dapat mengidentifikasi dan mengapresiasi cara yang paling Anda sukai untuk menerima informasi. Anda akan bisa berkomunikasi jauh lebih efektif dengan orang lain dan memperkuat pergaulan Anda dengan mereka. Yang penting, jangan jera dan merasa sudah cukup untuk terus belajar ....

Sabtu, 31 Maret 2012

Metode Kualitatif ; Studi Kasus, Analisis Wacana dan Analisis Isi.


Metode Kualitatif ; Studi Kasus, Analisis Wacana dan Analisis Isi.




LLRM
Dosen : Moh. Supardi, S.S.,M.Hum.

Qomi Uthugyan
Dhea Nurmala Azzahra
Khasan Bisri






Bahasa dan Sastra Inggris
Fakultas Adab dan Humaniora
Universitas Islam Negri

2012
KATA PENGANTAR

            Penelitian merupakan sebuah kegiatan yang ditujukan untuk memperoleh suatu informasi dan bisa jadi penyelesaian sebuah masalah yang dibangun dari data-data yang jelas serta akurat .  Sebenarnya saat kita menemukan sebuah masalah untuk diteliti, disitulah kita dihadapkan kepada suatu masalah baru yaitu masalah untuk menentukan metode apakah yang akan kita pakai nanti, kualitaifkah atau kuantitatifkah? Penjelasan metode kualitatif secara terperinci yang akan dijabarkan dimakalah ini sedikit banyaknya  akan membantu anda dalam menentukan metode mana yang cocok anda pakai saat ingin meneliti sebuah masalah.

PEMBAHASAN

1.METODE KUALITAIF
           
            Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahami (to understand) fenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yang lengkap tentang fenomena yang dikaji daripada memerincinya menjadi variabel-variabel yang saling terkait. Harapannya ialah diperoleh pemahaman yang mendalam tentang fenomena untuk selanjutnya dihasilkan sebuah teori. Karena tujuannya berbeda dengan penelitian kuantitatif, maka prosedur perolehan data dan jenis penelitian kualitatif juga berbeda.

2.STUDI KASUS
           
            Studi Kasus merupakan salah satu varian dari beberapa macam jenis pendekatan pada metode kualitatif.  Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus.
            Data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata lain data dalam studi ini dikumpulkan dari berbagai sumber (Nawawi, 2003),
            Lebih lanjut Arikunto (1986) mengemukakan bahwa metode studi kasus sebagai salah satu jenis pendekatan deskriptif, adalah penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu organisme (individu), lembaga atau gejala tertentu dengan daerah atau subjek yang sempit.
            Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Tujuannya untuk memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah masalah. Studi kasus menghasilkan data untuk selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori. Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsif.
            Berbeda dengan metode penelitian kuantitatif yang menekankan pada jumlah atau kuantitas sampel dari populasi yang diteliti, sebaliknya penelitian model studi kasus lebih menekankan kedalaman pemahaman atas masalah yang diteliti. Karena itu, metode studi kasus dilakukan secara  intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu gejala  atau fenomena  tertentu dengan lingkup yang sempit. Kendati lingkupnya sempit, dimensi yang digali harus luas, mencakup berbagai aspek hingga tidak ada satu pun aspek yang tertinggal. Oleh karena itu, di dalam studi kasus sangat tidak relevan pertanyaan-pertanyaan seperti berapa banyak subjek yang diteliti, berapa sekolah, dan berapa banyak sampel dan sebagainya. Perlu diperhatikan bahwa sebagai varian penelitian kualitatif, penelitian studi kasus lebih menekankan kedalaman subjek ketimbang banyaknya jumlah subjek yang diteliti.

2.a. Jenis-jenis Studi Kasus

a. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi
tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi ini sering kurang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.

b. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalui observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.

c. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu orang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hidup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
d. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.

e. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.

f. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.

2.b. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus

a. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan
(purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan
menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit
sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga
dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia;

b. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang
lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak;

c. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan;

d. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada;

e. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehiclupan seseorang atau kelompik.

2.c. Sumber Data:
Semua pihak yang bersangkutan
Wawancara
Observasi
Partisipasi
Dokumentasi/Arsif.
Informan

2.d. Ciri-ciri Studi Kasus Yang Baik

a. Menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum
atau bahkan dengan kepentingan nasional.

b. Batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga ditunjukkan
oleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya mampu
diselesaikan oleh penelitinya dengan balk dan tepat meskipun dihadang oleh
berbagai keterbatasan.
c. Mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang yang
berbeda-beda.

d. Keempat, studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja,
baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan pninsip
selektifitas.

e. Hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikasi
pada pembaca.














3. Analisis Wacana
 Analisis wacana adalah alternatif terhadap kebuntuan-kebuntuan dalam analisis media yang selama ini lebih didominasi oleh analisis isi konvensional dengan paradigma positif atau konstruktivisnya. Analisis Wacana akan memungkinkan untuk memperlihatkan motivasi yang tersembunyi di belakang sebuah teks atau di belakang pilihan metode penelitian tertentu untuk menafsirkan teks. Sedangkan pengertian wacana sendiri adalah cara tertentu untuk membicarakan dan memahami dunia (atau aspek dunia) ini. Analisis Wacana Kritis itu tidak lebih dari dekonstruktif membaca dan menafsirkan masalah atau teks (sambil tetap ingat bahwa teori-teori postmodern memahami setiap penafsiran realitas, karena itu, realitas itu sendiri sebagai teks. Setiap teks dikondisikan dalam suatu wacana, sehingga disebut Discourse Analysis. Fokus dari analisis wacana adalah setiap bentuk tertulis atau bahasa lisan, seperti percakapan atau artikel koran. Topik utama yang menjadi pokok dalam analisis wacana adalah struktur sosial yang mendasarinya, yang dapat diasumsikan atau dimainkan dalam percakapan atau teks. Ini menyangkut alat dan strategi yang dipakai orang ketika terlibat dalam komunikasi, seperti memperlambat suatu pidato untuk penekanan, penggunaan metafora, pilihan kata-kata tertentu untuk menampilkan mempengaruhi, dan sebagainya.
3.a. Kelemahan analisis wacana:
·        Pada saat menganalisis suatu wacana, sangat diperlukan kecerdasan dan keterampilan yang  tinggi agar dapat memahami maksud dari pembuat wacana tersebut. Kita harus dapat mencerna makna dari masing-masing kata dan kalimat dari wacana tersebut sehingga pada akhirnya kita dapat memahami maksud atau isi dari wacana tersebut.
·        Dalam menafsirkan suatu wacana tidak hanya dipertemukan pada masalah kebahasaan, tetapi juga dihadapkan pada problematika sosial, sehingga dalam memahaminya kita agak menemui kesulitan.
·        Pemaknaan semakin rumit karena sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif, analisisis wacana ini juga memakai paradigma penelitian. Dengan demikian proses penelitiannya tidak hanya berusaha memahami makna yang terdapat dalam sebuah naskah, melainkan seringkali menggali apa yang terdapat di balik naskah menurut paradigma penelitian yang dipergunakan
·        Discourse Analysis lebih banyak mengambil wacana politik dalam penelitiannya
·        Dalam penelitian dengan analisis wacana, kita cenderung harus lebih cermat dan amat teliti dalam memperhatikan semua aspek sekecil apapun itu.
·        Analisis Wacana tidak memberikan jawaban yang pasti, tetapi akan menghasilkan wawasan atau pengetahuan yang didasarkan pada perdebatan dan argumentasi terus-menerus.
3.b. Kelebihan analisis wacana :
·        Analisis wacana dapat diterapkan pada setiap situasi dan setiap subjek.
Perspektif baru yang disediakan oleh analisis wacana memungkinkan pertumbuhan pribadi tingkat tinggi pemenuhan kreatif dan dapat membimbing seseorang untuk dapat berfikir kritis.
·        Data yang ada dapat direkonstruksi untuk mengembangkan kerangka yang sudah ada sebelumnya. Tidak ada teknologi atau dana yang diperlukan tetapi analisis wacana dapat mengakibatkan perubahan mendasar dalam praktek-praktek lembaga, profesi, dan masyarakat secara keseluruhan.
3.c. Instrumen Penelitian Analisis Wacana:
·        Kuisioner. Pada kuisioner dilakukan untuk menggali dan membandingkan data atau informasi yang diperoleh untuk digunakan sebagai bahan penelitian.
·        Wawancara. Wawancara ini dilakukan untuk mendapatkan data langsung dari narasumber untuk memperjelas data yang dibutuhkan.
3.d. Teknik Melakukan Analisis Wacana
·        Dalam pelaksanaannya, analisis wacana untuk ilmu komunikasi ditempatkan sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif. Sebagaimana dimaklumi dalam penelitian sosial, setiap permasalahan penelitian selalu ditinjau dari perspektif teori sosial (dalam hal ini teori-teori komunikasi). Analisis wacana sebagai metode penelitian sosial tidak hanya mempersoalkan bahasa melainkan pula dikaitkan dengan problematika sosial.
·         Lebih dari itu, sebagai bagian dari metode penelitian sosial dengan pendekatan kualitatif, analisisis wacana ini juga mamakai paradigma penelitian. Dengan demikian proses penelitiannya tidak hanya berusaha memahami makna yang teradapat dalam sebuah naskah, melainkan acapkali menggali apa yang terdapat di balik naskah menurut paradigma penelitian yang dipergunakan. .
3.d. Keabsahan Analisis Wacana dan Pemanfaatan Hasil Analisis
Obyektivitas hasil penelitian analisis wacana terletak pada konsistensi si peneliti mengaplikasikan suatu pendekatan teori, paradigma penelitian dan jenis riset serta metode analisis wacana. Selama ia mengacu sekuat tenaga pada peralatan riset tersebut dalam rangka menjawab permasalah dan membuktikan tujuan penelitian, maka hasil risetnya dapat dikatakan sudah obyektif. Oleh karena , hindarilah opini pribadi dan diharuskan memakai kriteria kualitas paradigma penelitian dan karakter metode analisis wacana yang dipakai sebelum, selama, dan sesudah penelitian dilakukan. Upaya untuk senantiasa konsisten dengan kriteria kualitas paradigma penelitian ini pada gilirannya bagian dari usaha peneliti menjaga validitas hasil penelitian analisis wacana sesuai paradigma masing-masing.













4.      ANALISIS ISI

Analisis isi adalah “a research technique for making replicable and valid references from texts (or other meningful matter) to the contexts of their use (Krippendrorff, 2004: 18)”. Sementara itu, Neondrorf (2002) mendefinisikan analisis isi sebagai berikut: “Content analysis is an indeph analysis using quantitative or qualitative technique of messages using a scientific method (including attention to objectivity-intersubjectivity, a priori design, reliability, valibility, generalizability, replicability, and hypothesis testing) and is not limited as to the types of variables that maybe measured or the context in which are created or presented”.
            Analisis is merupakan suatu analisis mendalam yang dapat menggunakan teknik kuantitatif maupun kualitatif terhadap pesan-pesan yang menggunakan metode ilmiah dan tidak terbatas pada jenis-jenis variabel yang dapat diukur atau konteks tempat pesan-pesan diciptakan atau disajikan.
            Secara kualitatif, analisis isi dapat melibatkan suatu jenis analisis, dimana isi komunikasi (percakapan, teks tertulis, wawancara, fotografi, dan sebagainya) dikategorikan dan diklasifikasikan.
            Objek dari analisis isi (kualitatif) dapat berupa semua jenis komunikasi yang direkam (transkrip wawancara, wacana, protokol observasi, vidio tape, dokumen, dsb)

4.a. Ide-ide dasar analisis isi
Ada empat poin ide anlaisis.
Ø  Mempersiapkan materi ke dalam suatu model komunikasi: itu harus ditentukan pada bagian apa dari komunikasi inferensi akan dibuat, pada aspek komunikator (pengalamannya; pendapat, perasaan), pada situasi produksi teks, latar sosio-budaya, pada teks itu sendiri atau pada efek dari pesan.
Ø  Peran analisis: Materi yang akan dianalisis tahap demi tahap, mengikuti aturan prosedur, memecah materi kedalam unit-unit analisis isi.
Ø  Kategori-kategori analisis: Aspek-aspek interpretasi teks, mengikuti pertanyaan-pertanyaan penilitian, ditempatkan kedalam kategori-kategori yang secara cermat ditemukan dan direvisi di dalam proses analisis (lingkaran umpan-balik).
Ø  Kriteria validitas dan reliabilitas: prosedur memiliki pretensi menjadi antar-subjektif yang dapat dipahami, membandingkan hasil dengan studi yang lain dalam pengertian triangullasi dan melakukan pengecekan untuk reliabilitas.

4.b. Prosedur Analisis Isi Kualitatif
Komponen-komponen analisis isi kualitatif yang terdaftar diatas akan dipelihara menjadi fundamen untuk suatu prosedur yang berorientasi kualitatif dari interpretasi teks. Diantaranya ada dua pendekatan disini: Pengembangan kategori induktif dan aplikasi kategori deduktif.
1.      Pengembangan Kategori Induktif
Analisis isi kualitatif klasik memiliki beberapa jawaban untuk pertanyaan tentang darimana kategori-kategori datang, bagaimana sistem kategori itu dikembangkan, dan bagaimana kategori-kategori didefinisikan. Tetapi, dalam kerangka kerja pendekatan kualitatif hal itu akan menjadi perhatian sentral, untuk mengembangkan aspek-aspek interpretasi, kategori-kategori, sedekat mungkin dengan materi untuk merumuskannya dalam istilah-istilah dari materi tersebut.
2.      Aplikasi Kategori Deduktif
Aplikasi kategori deduktif bekerja dengan prioritas yang diformulasikan, aspek-aspek analisis yang diderivasikan secara teoretis, membawanya ke dalam hubungan dengan teks. Langkah kualitatif terdiri atas suatu pemilahan kategori suatu bagian dari teks terkontrol secara metodologis.



PUSTAKA ACUAN
Eriyanto. 2001. Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS
Ibnu Hamad. Jurnal Perkembangan Analisis Wacana Dalam Ilmu Komunikasi, Sebuah Telaah Ringkas.
Jorgansen, Marianne W. 2007. Analisis Wacana : Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar